Minggu, 29 April 2012

makalah kolaborasi orang tua



BAB I
PENDAHULUAN


1.1         Latar Belakang
      Kolaborasi dengan orang tua merupakan salah satu kegiatan pendukung dalam pembelajaran di Bimbingan dan Konseling. Karena dengan mengadakan kolaborasi ini. Antara orang tua, wali kelas dan konselor dapat bekerjasama dan saling memberi informasi keterkaitan siswa tersebut, sehingga perkembangan siswa secara integral (terpadu) dapat diketahui. Untuk dapat  melakukan perbaikan dan peningkatan yang diperlukan.
Perkembangan siswa yang semakin tidak dimengerti oleh orang tua dan guru  diperlukannya kolaborasi ini. Pada tahap ini siswa membutuhkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan dan tugas perkembangan sesuai periodenya. Maka dalam kolaborasi dapat membantu konselor maupun orang tua untuk memahami apa saja yang terjadi pada siswa. Sehingga komunikasi konselor dengan anak didik dan orang tuanya dapat efektif dan tidak terjadi secara formal dan kaku.
Dalam menyelesaikan berbagai macam masalah yang dialami siswa, konselor hendaknya menggunakan berbagai strategi layanan. Pada makalah ini akan dibahas tentang salah satu strategi pelayanan bimbingan dan konseling yakni kolaborasi dengan orang tua.

1.2              Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
1.        Apakah pengertian kolaborasi dengan orang tua?
2.        Apa tujuan  kolaborasi dengan orang tua?
3.        Apa kolaborasi dengan orang tua?
4.        Apa saja bentuk-bentuk kerjasama orang tua?
5.        Bagaimanakah  prinsip–prinsip kerjasama atau kolaborasi?
6.        Bagaiman cara atau teknik konsultasi dengan orang tua siswa?
7.        Bagaimanakah perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pada orang tua?
8.        Apa saja aspek yang menjadi ruang lingkup dalam kolaborasi dengan orang tua?

1.3            Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah di atas maka dapat ditarik tujuan penulisan sebagai berikut :
1.        Untuk mengetahui pengertian kolaborasi dengan orang tua
2.        Untuk mengetahui tujuan  kolaborasi dengan orang tua
3.        Untuk mengetahui kolaborasi dengan orang tua
4.        Untuk mengetahui bentuk-bentuk kerjasama orang tua
5.        Untuk mengetahui prinsip–prinsip kerjasama atau kolaborasi
6.        Untuk mengetahui cara atau teknik konsultasi dengan orang tua siswa
7.        Untuk mengetahui perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pada orang tua
8.        Untuk mengetahui aspek yang menjadi ruang lingkup dalam kolaborasi dengan orang tua



BAB II
PEMBAHASAN

2.1         Pengertian kolaborasi dengan Orang Tua
Kolaborasi merupakan istilah umum yang sering digunakan untuk menggambarkan suatu hubungan kerja sama yang dilakukan pihak tertentu. Sekian banyak pengertian dikemukakan dengan sudut pandang beragam namun didasari prinsip yang sama yaitu mengenai kebersamaan, kerja sama, berbagi tugas, kesetaraan, dan tanggung jawab.
Berdasarkan kamus Heritage Amerika (2000), kolaborasi adalah bekerja bersama khususnya dalam usaha penggambungkan pemikiran. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukanan oleh Gray (1989) menggambarkan bahwa kolaborasi sebagai suatu proses berfikir dimana pihak yang terklibat memandang aspek-aspek perbedaan dari suatu masalah serta menemukan solusi dari perbedaan tersebut dan keterbatasan padangan mereka terhadap apa yang dapat dilakukan.
Secara umum orang tua diartikan dengan yang sudah lanjut usia yang sering disebut dengan nenek atau kakek, tetapi orang tua yang diartikan oleh Ngalim Poerwanto(1987:47), orang tua adalah pendidik yang terutama dan sudah semestinya merekalah pendidik yang asli, yang menerima tugasnya dari tuhan untuk mendidik anak-anaknya,karena itulah sudah semestinya mereka mempunyai kewajiban terhadap anak-anakanya. 
Jadi kolaborasi dengan orang tua yaitu suatu proses interaksi yang kompleks dan beragam yang melibatkan konselor, orang tua  maupun siswa dalam bekerjasama untuk memperoleh data untuk  membantu siswa dalam proses belajar maupun permasalahannya sehingga perkembangannya dapat berjalan secara optimal. Kolaborasi dengan orang tua ini sebagai salah satu pelayanan  responsif yang bersifat preventif atau pencegahan.  

2.2        Tujuan  kolaborasi dengan orang tua
1. Menjalin hubungan baik antara konselor, orang tua dan siswa sehingga ketika terjadi permasalahan konselor dapat dengan mudah melakukan penanganan
2. Konselor mampu membantu siswa menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan baik
3. Untuk meningkatkan potensi siswa
4. Untuk memperoleh data dari siswa yang berada di rumah ataupun di sekolah agar dalam pemecahan masalah yang dihadapi segera teratasi
5. Agar dalam pemerolehan data dari orang tua kita dapat memberikan pecegahan sebelum siswa mengarah keperilaku negatif, lalu pengentasan yang diharapkan kearah positif sehingga konselor  sinkron dalam menanganinya.

2.3       2.3  Kolaborasi dengan Orang tua
Pada kolaborasi antara konselor, orang tua, dan siswa yang terjadi, semua tergantung kepada masalah atau kebutuhan siswa. Masalah dan kebutuhan siswa berkaitan dengan perkembangan dan kebutuhannya. Seperti kebutuhan untuk memperoleh informasi tentang siswa di sekolah maupun di rumah. Masalah siswa lainnya adalah yang berkaitan dengan berbagai hal yang dialami atau dirasakan mengganggu kenyamanan hidupnya atau menghambat perkembangan dirinya yang positif, karena tidak terpenuhi kebutuhannya, atau gagal dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Masalah siswa pada umumnya tidak mudah diketahui secara langsung
Konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua siswa. Kerjasama ini penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antar konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi peserta didik atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi peserta didik.
Kontak yang baik antara sekolah dengan para orang tua siswa menguntungkan bagi orang tua, para siswa, dan sekolah sendiri. Konselor sekolah mendapat banyak kesempatan untuk membina hubungan dengan orang tua dalam kedudukannya dalam konsultan. Dalam hal ini konselor dapat mengambil inisiatif dengan mengundang orang tua ke sekolah atau orang tua sendiri minta bertemu dengan konselor. Hal yang dibicarakan antara konselor sekolah dengan orangtua menyangkut macam-macam hal, misalnya kemajuan anak dalam belajar, pilihan sekolah lanjutan, perilaku anak disekolah, sikap dan tingkah laku anak dirumah, pengiriman (referal) ahli lain diluar lingkungan sekolah, hubungan orang tua dan anak yang kurang memuaskan, corak pergaulan teman diluar sekolah, dan interpretasi hasil testing. Disini konselor dapat menjelaskan kepada orang tua tentang anaknya, seperti perilaku anaknya di sekolah itu, proses belajar yang dilakukan anak, hambatan yang terjadi di sekolah dan lainnya. Sebaliknya dalam kolaborasi ini para orang tua dapat banyak memberikan informasi lebih kepada konselor. Misal tentang tentang harapan yang diinginkan orang tua, serta tentang riwayat pertumbuhan dan perkembangan anak.
Hasil dan harapan yang ingin dicapai dalam pembicaraan antara orang tua dan konselor adalah dapat pengetahuan serta pemahaman yang lebih luas dan mendalam tentang keadaan siswa. Bagi orang tua siswa hasil ini akan dapat membawa hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak, serta anak dapat terkontrol dengan baik. Bagi seorang konselor sekolah akan dapat memperoleh gambaran yang lengkap tentang siswa, sehingga siswa dapat terkontrol dan kondusif di sekolah.
Kolaborasi orang tua salah satunya dilakukan dengan kunjungan rumah. Melewati kunjungan rumah ini konselor mendapatkan narasumber yang mengetahui latar belakang siswanya untuk memeroleh data yang diingkan. Karena kebanyakan orang tua memaksakan kehendaknya, semisal permasalahan ketika penjurusan terjadi, maka perlu diberikan informasi yang akan membantu siswa. Kolaborasi melewati kunjungan rumah ini untuk mengumpulkan data dan menyelesaikan konferensi kasus. Ketika adanya pemikiran yang hanya sepintas maka perlunya kolaborasi yang menyambungkan antara orang tua dan anaknya. Dan orang tua  perlu tahu bahwa, mereka harus mengerti ketika anaknya ingin kebebasan juga, dan siswa juga tahu bahwa orang tuanya akan merasa bosan jika kita selalu bilang tentang dana. Disinilah konselor akan berperan aktif,yaitu hubungan orang tua dengan konselor dan terjadi kolaborasi dengan konseli. Dan yang perlu diingat  “jangan menggurui orang tua”.  Jika kolaborasi akan berhasil salah satunya yaitu prestasi belajar siswa meningkat.

2.4           Bentuk-bentuk kerjasama Orang Tua
            Kerjasama orang tua dan konselor sangat menentukan keberhasilan siswa. Melalui kerjasama ini mereka saling bantu membantu serta saling pengertian antara orang tua dan konselor siswa demi keuntungan siswa, maka terwujudlah saling mengerti dan bantu membantu antara keduanya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
            Saling bantu membantu serta saling pengertian antara orang tua dan konselor siswa sangat diperlukan. Bahwa mereka mengisafi betapa penting serta bermanfaat kerjasama dalam menciptakan hal tersebut, orang tua dan konselor harus berusaha menempuh langkah-langkah apa yang harus dilakukan sehingga kerjasama dapat terjalin dengan baik antara kedua belah pihak yang berhubungan.
            Bahwa penyelenggaraan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab konselor di sekolah, tetapi orang tua(keluarga) turut tanggung jawab atas berhasil tidaknya siswa dalam pendidikan. Jika kedunya bekerjasama dengan baik maka tujuan yang diharapkan akan tercapai secara optimal dalam membantu siswa.
Dilain pihak orang tua maupun konselor harus memperhatikan akan kebutuhan yang diperlukan anak guna mendukung program pendidikan sekaligus bisa memperbaiki prestasi belajar siswa di sekolah.

2.5         Prinsip– prinsip kerjasama atau kolaborasi
Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, demi suksesnya kegiatan tersebut maka diperlukan kerjasama yang baik antara pihak sekolah dan orang tua atau wali siswa. Kerjasama atau kolaborasi tersebut harus memenuhi prinsip - prinsip sebagai berikut :
1. Supporting : orang tua di rumah memberi dukungan dan dorongan secara wajar. Sedangkan di sekolah konselor memberi dukungan penuh dengan mengembangkan kelas yang menyenangkan dimana kebutuhan tiap individu terpenuhi. 
2. Understanding : orang tua memahami bahwa setiap anak berbeda dan memberi banyak dukungan untuk perkembangan dengan cara yang berbeda–beda. Sedangkan guru di sekolah memahami bahwa setiap individu membutuhkan perlakuan yang berbeda dan dukungan yang berbeda pula. 
3. Caring : memberi perhatian kepada anak secara mendalam, mengawasi perkembangannya dan memberi pujian. 
4. Communication : berbicara sesuai dengan pikiran anak dan mendengarkan apa yang diutarakan serat menjawab pertanyaan mereka.
5. Experimentation : memberi mereka peluang untuk bereksperimen dan memecahkan masalah dengan tuntas.
6. Sharing : mendorong anak untuk mengungkapkan perasaan, pengalaman, pikiran, dan menawarkan saran–saran.
7. Success : memuji usaha anak serta kreatifitasnya. Dasar – dasar keberhasilan belajar terbentuk jika anak punya rasa kepercayaan diri dan kepercayaan mengatasi masalah.

2.6   Cara atau teknik konsultasi dengan orang tua siswa
Konsultasi yang efektif hanya akan berlangsung bila konselor mampu menciptakan suasana komunikasi antar pribadi yang memuaskan untuk kedua belah pihak. Tipe konsultasi yang sesuai dalam berkonsultasi dengan orang tua tergantung dari permasalahan yang dibicarakan dan dari taraf pendidikan serta harapan orang tua yang datang untuk berkonsultasi. Tipe memberikan layanan akan sesuai bila orang tua memandang konselor sebagai narasumber yang diharapkan memberikan pandangan dan pendapat, yang dapat membantu memahami keadaan anak dan meningkatkan komunikasi dengan anak. Meskipun demikian seorang konselor harus menghindari suatu pemikiran pembicaraan yang jauh diatas kemampuan orang tua dan tidak menggunakan istilah-istilah yang sangat teknis, apalagi berbicara dengan nada menyalahkan orang tua. Tipe kerjasama yang baik ialah kerjasama yang saling menguntungkan antar berbagai pihak, dalam hal ini konselor dan orang tua mungkin akan sepakat bahwa ada baiknya konselor bicara juga dengan siswa bersangkutan sehingga pendekatan tidak langsung dilengkapi dengan pendekatan langsung.
Dalam berkonsultasi dengan orang tua siswa, konselor harus dapat mengkondisikan suasana yang serasi dan harmonis, meskipun mungkin ada masalah yang dialami oleh anak baik dalam keluarga maupun sekolah. Seorang konselor harus bisa mengkondisikan dengan sebaik baiknya agar orang tua siswa dapat bebas mengungkapkan pikiran dan perasaan yang ingin diungkapkan. Orang tua siswa harus merasa bebas untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka secara leluasa, tanpa merasa terancam rasa harga dirinya. Selama dalam pembicaraan dan proses diskusi biasanya terdapat suatu perbedaan pandangan, namun dalam perbedaan tersebut tidaklah boleh ada sikap perdebatan, karena akan dapat merugikan siswa. Harus diakui bahwa biasanya ada orang tua yang bersikap menyerang, maupun ada yang defensif. Dalam hal itu konselor membutuhkan keterampilan melunakan orang tua siswa sehingga terciptalah suasana yang memungkinkan untuk saling menukarkan pandangan demi kebaikan anak. Konsultasi yang efektif hanya akan berlangsung bila konselor mampu menciptakan suasana komunikasi antar pribadi yang memuaskan untuk kedua belah pihak.

2.7    Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi pada Orang Tua

1. Perencanaan : Konselor sebagai perencana dan penyelenggara kolaborasi dengan orang tua  siswa hendaknya perencanaan itu dapat terlaksana secara sistematis, terorganisir dan efisien.
2. Pelaksanaan :
a)    Kunjungan ke rumah siswa : Pelaksanaan kunjungan kerumah anak didik berdampak positif.
b)   Diundangnya Orang tua ke sekolah : Kalau ada berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah yang memungkinkan untuk dihadiri oleh orang tua maka akan positif sekali bila orangtua diundang untuk datang ke sekolah. Misal dengan mengadakan perayaan,pesta sekolah atau pameran-pameran hasil kerja siswa
c)  Case Conference : Case Conference merupakan rapat atau conference tentang kasus. Conference biasanya dipimpin oleh orang yang paling mengetahui persoalan bimbingan konseling khususnya tentang kasus yang dimaksud tujuannya agar mencari jalan yang paling tepat agar masalah siswa dapat diatasi dengan baik.
d)       Badan pembantu sekolah: Badan pembantu sekolah adalah organisasi orang tua siswa dan guru yang dimaksud kerjasama yang paling organisasi antara sekolah atau guru dengan orang tua siswa.
e) Mengadakan Surat Menyurat Antara Sekolah dan Keluarga: Surat menyurat diperlukan terutama pada waktu-waktu yang sangat diperlukan pada perbaikan pendidikan anak didik, seperti surat peringatan dari guru kepada orangtua jika anaknya perlu lebih giat, sering membolos, sering berbuat keributan dan sebagainya.
f)         Adanya Daftar Nilai Atau Rapor : Rapor yang biasanya di berikan setiap tiap semester kepada para siswa dapat dipakai sebagai penghubung antara sekolah dengan orang tua. Sekolah dapat memberi surat peringatan atau meminta bantuan orangtua bila hasil rapor anaknya kurang baik atau sebaliknya jika anaknya mempunyai keistimewaan dalam suatu mata pelajaran, agar dapat lebih giat mengembangkan bakatnya atau minimal mampu mempertahankan apa yang sudah dapat diraihnya.
g)        Mengadakan pertemuan pada hari penerimaan siswa baru
Pada awal masuk layanan informasi sangat bermanfaat untuk siswa maupun untuk orang tua karena pada saat ini konselor dapat menjelaskan seputar siswa pada masa itu.
h)        Dan terpenting  ialah mendirikan perkumpulan orang tua dan guru.
Agar mereka dapat mengetahui perilaku dan apa saja yang didapat serta dilakukan oleh siswa. Maka disini mereka dapat
3. Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu usaha untuk mengetahui tingkat keberhasilan kolaborasi dengan orang tua  siswa. Melalui kolaborasi akan diperoleh berbagai data atau keterangan tentang berbagai hal yang besar kemungkinan ada sangkut pautnya dengan permasalahan siswa. Serta untuk memperbaiki proses kolaborasinya yang lebih baik agar siswa dapat berkembang secara optimal.

2.8  Aspek yang menjadi ruang lingkup dalam kolaborasi dengan Orang Tua
            Aspek-aspek ini sesuai dengan bidang layanan bimbingan dan konseling, yakni sebagai berikut :
1.    Aspek pribadi atau sosial
Bidang ini meliputi pemantapan keimanan, potensi diri, bakat, minat, pemahaman dan penerimaan  diri, kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat,kemampuan dalam berinteraksi sosial, kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif, tingkah laku konseli dalam bertindak,dan kemampuan dalam menyelesaikan konflik. Dalam kolaborasi, konselor memberikan pelayanan-pelayanan yang mencakup hal di atas. Dan dapat memberikan pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. Agar siswa bisa mencapai perkembangan optimal dalam dirinya.
2.        Aspek akademik
Bidang ini meliputi kesadaran akan potensi diri dalam aspek belajar, kebiasaan sikap belajar yang efektif, keterampilan atau teknik belajar yang efektif. Dalam hal ini konselor memfasilitasi sesuai aspek tersebut.
3.        Aspek karir
Bidang ini meliputi pemahamaan terkait dengan pekerjaan, kemampuan merencanakan masa depan, kematangan untuk mengambil keputusan karir, pemantapan pemahaman diri yang berkenaan dengan kecenderungan karir.   Konselor memfasilitasi konseli dalam pencapaian kariernya, sehingga siswa dapat mengembangkan sesuai apa yang diinginkan.




BAB III
PENUTUP


3.1          Kesimpulan
Kita dapat mengetahui bahwa kolaborasi dengan orangtua itu sangatlah penting untuk mengethui perilaku dan perkembangan si anak. Agar kedepannya si anak dalam menetukan tujuan dan pilihan-pilihannya dapat menambil keputusan yang tepat. Dan dalam kolaborasi ini dikaitkan dalam perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi. Serta dalam 4 aspek yaitu karir,akademik,sosial dan pribadi.




DAFTAR RUJUKAN

Santoso,Djoko B. 2009. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Malang:tanpa penerbit.
Mukliskurniawan.http://www.facebook.com/notes/mukliskurniawan-blog/hubungan-kerjasama-antara-guru-dan-orangtua-dalam-meningkatkan-aktivitas-belajar/10150170093891505?ref=nf. Diakses tanggal 9 April 2012
Sj,WS Winkel. 1991. Bimbingan dan Konseling. Di institusi pendidikan. Jakarta: PT Grasindo.
Nursing .(www.nursingword.org/readroom,). Diakses tanggal 11 April 2012.




Oleh :

Kelompok 13 Offering C :

Rio Rizki Andani        (110111409586)
Tri Mei Kusumawati    (110111409538)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar