BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kolaborasi
dengan orang tua merupakan salah satu kegiatan pendukung dalam pembelajaran di
Bimbingan dan Konseling. Karena dengan mengadakan kolaborasi ini. Antara orang
tua, wali kelas dan konselor dapat
bekerjasama dan saling memberi informasi keterkaitan siswa tersebut, sehingga
perkembangan siswa secara integral (terpadu) dapat diketahui. Untuk dapat melakukan perbaikan dan peningkatan yang
diperlukan.
Perkembangan
siswa yang semakin tidak dimengerti oleh orang tua dan guru diperlukannya kolaborasi ini. Pada tahap ini
siswa membutuhkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan dan tugas perkembangan
sesuai periodenya. Maka dalam kolaborasi dapat membantu konselor maupun orang
tua untuk memahami apa saja yang terjadi pada siswa. Sehingga komunikasi konselor dengan anak didik dan orang
tuanya dapat efektif dan tidak terjadi secara formal dan kaku.
Dalam menyelesaikan berbagai macam
masalah yang dialami siswa,
konselor hendaknya menggunakan berbagai strategi layanan. Pada makalah ini akan
dibahas tentang salah satu strategi pelayanan bimbingan dan konseling yakni kolaborasi dengan orang tua.
1.2
Rumusan
Masalah
Dari latar belakang di atas maka
dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
1.
Apakah pengertian kolaborasi dengan orang tua?
2.
Apa tujuan kolaborasi dengan orang tua?
3.
Apa kolaborasi dengan orang tua?
4.
Apa saja bentuk-bentuk
kerjasama orang tua?
5.
Bagaimanakah prinsip–prinsip
kerjasama atau kolaborasi?
6.
Bagaiman
cara atau teknik konsultasi dengan orang tua siswa?
7.
Bagaimanakah perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pada orang tua?
8.
Apa saja aspek yang menjadi
ruang lingkup dalam kolaborasi dengan orang
tua?
1.3
Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah di
atas maka dapat ditarik tujuan penulisan sebagai berikut :
1.
Untuk mengetahui pengertian
kolaborasi dengan orang tua
2.
Untuk mengetahui tujuan
kolaborasi dengan orang tua
3.
Untuk mengetahui kolaborasi
dengan orang tua
4.
Untuk mengetahui bentuk-bentuk
kerjasama orang tua
5.
Untuk mengetahui prinsip–prinsip
kerjasama atau kolaborasi
6.
Untuk mengetahui cara atau teknik konsultasi dengan orang tua siswa
7.
Untuk mengetahui perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pada orang tua
8.
Untuk mengetahui aspek yang menjadi ruang
lingkup dalam kolaborasi dengan orang tua
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian kolaborasi dengan Orang Tua
Kolaborasi
merupakan istilah umum yang sering digunakan untuk menggambarkan suatu hubungan
kerja sama yang dilakukan pihak tertentu. Sekian banyak pengertian dikemukakan
dengan sudut pandang beragam namun didasari prinsip yang sama yaitu mengenai
kebersamaan, kerja sama, berbagi tugas, kesetaraan, dan tanggung
jawab.
Berdasarkan
kamus Heritage Amerika (2000), kolaborasi adalah bekerja bersama khususnya
dalam usaha penggambungkan pemikiran. Hal ini sesuai dengan apa yang
dikemukanan oleh Gray (1989) menggambarkan bahwa kolaborasi sebagai suatu
proses berfikir dimana pihak yang terklibat memandang aspek-aspek perbedaan
dari suatu masalah serta menemukan solusi dari perbedaan tersebut dan
keterbatasan padangan mereka terhadap apa yang dapat dilakukan.
Secara umum orang tua diartikan dengan yang sudah lanjut usia yang
sering disebut dengan nenek atau kakek, tetapi orang tua yang diartikan oleh
Ngalim Poerwanto(1987:47), orang tua adalah pendidik yang terutama dan sudah
semestinya merekalah pendidik yang asli, yang menerima tugasnya dari tuhan
untuk mendidik anak-anaknya,karena itulah sudah semestinya mereka mempunyai
kewajiban terhadap anak-anakanya.
Jadi kolaborasi dengan orang tua yaitu suatu proses interaksi yang
kompleks dan beragam yang melibatkan konselor, orang tua maupun siswa dalam bekerjasama untuk
memperoleh data untuk membantu siswa
dalam proses belajar maupun permasalahannya sehingga perkembangannya dapat
berjalan secara optimal. Kolaborasi dengan orang tua ini
sebagai salah satu pelayanan responsif yang
bersifat preventif atau pencegahan.
2.2
Tujuan
kolaborasi dengan orang tua
1. Menjalin hubungan baik antara konselor, orang tua dan siswa sehingga ketika terjadi permasalahan konselor dapat dengan mudah melakukan
penanganan
2. Konselor mampu
membantu siswa menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan baik
3. Untuk
meningkatkan potensi siswa
4. Untuk memperoleh
data dari siswa yang berada di rumah ataupun di sekolah agar dalam pemecahan masalah
yang dihadapi segera teratasi
5. Agar dalam
pemerolehan data dari orang tua kita dapat memberikan pecegahan sebelum siswa
mengarah keperilaku negatif, lalu pengentasan yang diharapkan kearah positif
sehingga konselor sinkron dalam
menanganinya.
2.3 2.3 Kolaborasi
dengan Orang tua
Pada kolaborasi antara konselor, orang tua, dan siswa
yang terjadi, semua tergantung kepada masalah atau
kebutuhan siswa. Masalah dan kebutuhan siswa berkaitan dengan perkembangan dan kebutuhannya. Seperti kebutuhan untuk
memperoleh informasi tentang siswa di sekolah maupun di rumah. Masalah
siswa lainnya adalah yang berkaitan dengan berbagai hal yang dialami atau
dirasakan mengganggu kenyamanan hidupnya atau menghambat perkembangan dirinya
yang positif, karena tidak terpenuhi kebutuhannya, atau gagal dalam mencapai
tugas-tugas perkembangannya. Masalah siswa pada umumnya tidak mudah diketahui secara
langsung
Konselor
perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua siswa. Kerjasama ini penting agar proses
bimbingan terhadap siswa
tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah, tetapi juga oleh orang tua di
rumah. Melalui kerjasama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan
informasi, pengertian, dan
tukar pikiran antar konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi
peserta didik atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi peserta didik.
Kontak
yang baik antara sekolah dengan para orang tua siswa menguntungkan bagi orang
tua, para siswa, dan
sekolah sendiri. Konselor sekolah mendapat banyak kesempatan untuk membina
hubungan dengan orang tua dalam kedudukannya dalam konsultan. Dalam hal ini
konselor dapat mengambil inisiatif dengan mengundang orang tua ke sekolah atau
orang tua sendiri minta bertemu dengan konselor. Hal yang dibicarakan antara konselor sekolah dengan
orangtua menyangkut macam-macam hal,
misalnya
kemajuan anak dalam belajar, pilihan
sekolah lanjutan, perilaku
anak disekolah, sikap
dan tingkah laku anak dirumah, pengiriman (referal) ahli lain diluar lingkungan
sekolah, hubungan orang tua dan anak yang kurang memuaskan, corak pergaulan
teman diluar sekolah, dan interpretasi hasil testing. Disini konselor dapat
menjelaskan kepada orang tua tentang anaknya,
seperti
perilaku anaknya di sekolah
itu, proses belajar yang dilakukan anak, hambatan yang terjadi di sekolah dan
lainnya. Sebaliknya
dalam kolaborasi ini para orang tua dapat banyak memberikan informasi lebih kepada konselor. Misal tentang tentang harapan
yang diinginkan orang tua, serta
tentang riwayat pertumbuhan dan perkembangan anak.
Hasil
dan harapan yang ingin dicapai dalam pembicaraan antara orang tua dan konselor
adalah dapat pengetahuan serta pemahaman yang lebih luas dan mendalam tentang
keadaan siswa. Bagi orang tua siswa hasil ini akan dapat membawa hubungan yang
harmonis antara orang tua dan anak, serta anak dapat terkontrol dengan baik.
Bagi seorang konselor sekolah akan dapat memperoleh gambaran yang lengkap
tentang siswa, sehingga siswa dapat terkontrol dan kondusif di sekolah.
Kolaborasi orang tua salah satunya dilakukan dengan
kunjungan rumah. Melewati kunjungan rumah ini konselor mendapatkan narasumber
yang mengetahui latar belakang siswanya untuk memeroleh data yang diingkan.
Karena kebanyakan orang tua memaksakan kehendaknya, semisal permasalahan ketika
penjurusan terjadi, maka perlu diberikan informasi yang akan membantu siswa.
Kolaborasi melewati kunjungan rumah ini untuk mengumpulkan data dan
menyelesaikan konferensi kasus. Ketika adanya pemikiran yang hanya sepintas maka
perlunya kolaborasi yang menyambungkan antara orang tua dan anaknya. Dan orang
tua perlu tahu bahwa, mereka harus
mengerti ketika anaknya ingin kebebasan juga, dan siswa juga tahu bahwa orang
tuanya akan merasa bosan jika kita selalu bilang tentang dana. Disinilah
konselor akan berperan aktif,yaitu hubungan orang tua dengan konselor dan
terjadi kolaborasi dengan konseli. Dan yang perlu diingat “jangan menggurui orang tua”. Jika kolaborasi akan berhasil salah satunya
yaitu prestasi belajar siswa meningkat.
2.4
Bentuk-bentuk kerjasama Orang Tua
Kerjasama
orang tua dan konselor sangat menentukan keberhasilan siswa. Melalui kerjasama
ini mereka saling bantu membantu serta saling pengertian antara orang tua dan
konselor siswa demi keuntungan siswa, maka terwujudlah saling mengerti dan
bantu membantu antara keduanya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
Saling
bantu membantu serta saling pengertian antara orang tua dan konselor siswa
sangat diperlukan. Bahwa mereka mengisafi betapa penting serta bermanfaat
kerjasama dalam menciptakan hal tersebut, orang tua dan konselor harus berusaha
menempuh langkah-langkah apa yang harus dilakukan sehingga kerjasama dapat
terjalin dengan baik antara kedua belah pihak yang berhubungan.
Bahwa penyelenggaraan pendidikan
tidak hanya menjadi tanggung jawab konselor di sekolah, tetapi orang
tua(keluarga) turut tanggung jawab atas berhasil tidaknya siswa dalam
pendidikan. Jika kedunya bekerjasama dengan baik maka tujuan yang diharapkan
akan tercapai secara optimal dalam membantu siswa.
Dilain pihak orang tua maupun konselor harus memperhatikan akan
kebutuhan yang diperlukan anak guna mendukung program pendidikan sekaligus bisa
memperbaiki prestasi belajar siswa di sekolah.
2.5
Prinsip– prinsip kerjasama atau kolaborasi
Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, demi suksesnya
kegiatan tersebut maka diperlukan kerjasama yang baik antara pihak sekolah dan
orang tua atau wali siswa. Kerjasama atau kolaborasi tersebut harus memenuhi
prinsip - prinsip sebagai berikut :
1. Supporting : orang tua di rumah memberi
dukungan dan dorongan secara wajar. Sedangkan di sekolah konselor memberi dukungan penuh dengan mengembangkan kelas yang
menyenangkan dimana kebutuhan tiap individu terpenuhi.
2. Understanding : orang tua memahami bahwa
setiap anak berbeda dan memberi banyak dukungan untuk perkembangan dengan cara
yang berbeda–beda. Sedangkan guru di sekolah memahami bahwa setiap individu
membutuhkan perlakuan yang berbeda dan dukungan yang berbeda pula.
3. Caring : memberi perhatian kepada anak secara mendalam, mengawasi
perkembangannya dan memberi pujian.
4. Communication : berbicara sesuai dengan
pikiran anak dan mendengarkan apa yang diutarakan
serat menjawab pertanyaan mereka.
5. Experimentation : memberi mereka peluang untuk bereksperimen dan memecahkan
masalah dengan tuntas.
6. Sharing : mendorong anak untuk
mengungkapkan perasaan, pengalaman, pikiran, dan menawarkan saran–saran.
7. Success : memuji usaha anak serta
kreatifitasnya. Dasar – dasar keberhasilan belajar terbentuk jika anak punya rasa kepercayaan diri dan
kepercayaan mengatasi masalah.
2.6
Cara atau teknik konsultasi
dengan orang tua siswa
Konsultasi yang efektif
hanya akan berlangsung bila konselor mampu menciptakan suasana komunikasi antar
pribadi yang memuaskan untuk kedua belah pihak. Tipe konsultasi yang sesuai
dalam berkonsultasi dengan orang tua tergantung dari permasalahan yang
dibicarakan dan dari taraf pendidikan serta harapan orang tua yang datang untuk
berkonsultasi. Tipe memberikan layanan akan sesuai bila orang tua memandang konselor
sebagai narasumber yang diharapkan memberikan pandangan dan pendapat, yang
dapat membantu memahami keadaan anak dan meningkatkan komunikasi dengan anak. Meskipun demikian
seorang konselor harus menghindari suatu pemikiran pembicaraan yang jauh diatas
kemampuan orang
tua dan tidak menggunakan istilah-istilah yang sangat teknis, apalagi berbicara
dengan nada menyalahkan orang tua.
Tipe
kerjasama yang baik ialah kerjasama yang saling menguntungkan antar berbagai
pihak, dalam hal ini konselor dan orang tua mungkin akan sepakat bahwa ada
baiknya konselor bicara juga dengan siswa bersangkutan sehingga pendekatan
tidak langsung dilengkapi dengan pendekatan langsung.
Dalam
berkonsultasi dengan orang tua siswa, konselor harus dapat mengkondisikan
suasana yang serasi dan harmonis, meskipun mungkin ada masalah yang dialami
oleh anak baik dalam keluarga maupun sekolah. Seorang konselor harus bisa mengkondisikan
dengan sebaik baiknya agar orang tua siswa dapat bebas mengungkapkan pikiran
dan perasaan yang ingin diungkapkan. Orang tua siswa harus merasa bebas untuk
mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka secara leluasa, tanpa merasa terancam
rasa harga dirinya. Selama dalam pembicaraan dan proses diskusi biasanya
terdapat suatu perbedaan pandangan, namun dalam perbedaan tersebut tidaklah
boleh ada sikap perdebatan, karena akan dapat merugikan siswa. Harus diakui
bahwa biasanya ada orang tua yang bersikap menyerang, maupun ada yang
defensif. Dalam hal itu konselor membutuhkan keterampilan melunakan orang tua
siswa sehingga terciptalah suasana yang memungkinkan untuk saling menukarkan
pandangan demi kebaikan anak. Konsultasi yang efektif hanya akan berlangsung
bila konselor mampu menciptakan suasana komunikasi antar pribadi yang memuaskan
untuk kedua belah pihak.
2.7
Perencanaan, Pelaksanaan
dan Evaluasi pada Orang Tua
1. Perencanaan :
Konselor
sebagai perencana dan penyelenggara kolaborasi
dengan orang tua siswa hendaknya perencanaan itu dapat terlaksana secara sistematis,
terorganisir dan efisien.
2. Pelaksanaan :
a) Kunjungan ke rumah siswa : Pelaksanaan kunjungan kerumah
anak didik berdampak positif.
b) Diundangnya Orang tua ke sekolah : Kalau ada berbagai
kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah yang memungkinkan untuk dihadiri
oleh orang tua maka akan positif sekali bila orangtua diundang untuk datang ke
sekolah. Misal dengan mengadakan
perayaan,pesta sekolah atau pameran-pameran hasil kerja siswa
c) Case
Conference : Case Conference merupakan
rapat atau conference tentang kasus. Conference biasanya dipimpin oleh orang
yang paling mengetahui persoalan bimbingan konseling khususnya tentang kasus
yang dimaksud tujuannya agar mencari jalan yang paling tepat agar masalah siswa
dapat diatasi dengan baik.
d)
Badan pembantu sekolah: Badan pembantu sekolah adalah
organisasi orang tua siswa dan guru yang dimaksud kerjasama yang paling
organisasi antara sekolah atau guru dengan orang tua siswa.
e) Mengadakan Surat Menyurat Antara Sekolah dan Keluarga:
Surat menyurat diperlukan terutama pada waktu-waktu yang sangat diperlukan pada
perbaikan pendidikan anak didik, seperti surat peringatan dari guru kepada
orangtua jika anaknya perlu lebih giat, sering membolos, sering berbuat
keributan dan sebagainya.
f)
Adanya Daftar Nilai Atau Rapor : Rapor yang biasanya
di berikan setiap tiap semester kepada para siswa dapat dipakai sebagai penghubung
antara sekolah dengan orang tua. Sekolah dapat memberi surat peringatan atau
meminta bantuan orangtua bila hasil rapor anaknya kurang baik atau sebaliknya
jika anaknya mempunyai keistimewaan dalam suatu mata pelajaran, agar dapat
lebih giat mengembangkan bakatnya atau minimal mampu mempertahankan apa yang
sudah dapat diraihnya.
g)
Mengadakan
pertemuan pada hari penerimaan siswa baru
Pada
awal masuk layanan informasi sangat bermanfaat untuk siswa maupun untuk orang
tua karena pada saat ini konselor dapat menjelaskan seputar siswa pada masa
itu.
h)
Dan
terpenting ialah mendirikan perkumpulan
orang tua dan guru.
Agar
mereka dapat mengetahui perilaku dan apa saja yang didapat serta dilakukan oleh
siswa. Maka disini mereka dapat
3.
Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu usaha untuk mengetahui
tingkat keberhasilan kolaborasi dengan orang tua siswa. Melalui kolaborasi akan diperoleh berbagai data atau keterangan tentang
berbagai hal yang besar kemungkinan ada sangkut pautnya dengan permasalahan siswa.
Serta untuk memperbaiki proses kolaborasinya yang
lebih baik agar siswa dapat berkembang secara optimal.
2.8 Aspek
yang menjadi ruang lingkup dalam kolaborasi dengan Orang Tua
Aspek-aspek ini sesuai
dengan bidang layanan bimbingan dan konseling, yakni sebagai berikut :
1. Aspek
pribadi atau sosial
Bidang ini meliputi pemantapan keimanan, potensi diri, bakat, minat,
pemahaman dan penerimaan diri, kemampuan
untuk melakukan pilihan secara sehat,kemampuan dalam berinteraksi sosial, kemampuan
untuk mengambil keputusan secara efektif, tingkah laku konseli dalam bertindak,dan
kemampuan dalam menyelesaikan konflik. Dalam kolaborasi, konselor memberikan pelayanan-pelayanan
yang mencakup hal di atas. Dan dapat memberikan
pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. Agar siswa bisa mencapai perkembangan optimal dalam
dirinya.
2.
Aspek akademik
Bidang ini meliputi kesadaran akan potensi diri dalam aspek belajar, kebiasaan
sikap belajar yang efektif, keterampilan atau teknik belajar yang efektif.
Dalam hal ini konselor memfasilitasi sesuai aspek tersebut.
3.
Aspek karir
Bidang ini meliputi pemahamaan terkait dengan
pekerjaan, kemampuan merencanakan masa depan, kematangan untuk mengambil
keputusan karir, pemantapan pemahaman diri yang berkenaan dengan kecenderungan
karir. Konselor memfasilitasi konseli
dalam pencapaian kariernya, sehingga siswa dapat mengembangkan sesuai apa yang
diinginkan.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Kita
dapat mengetahui bahwa kolaborasi dengan orangtua itu sangatlah penting untuk
mengethui perilaku dan perkembangan si anak. Agar kedepannya si anak dalam
menetukan tujuan dan pilihan-pilihannya dapat menambil keputusan yang tepat.
Dan dalam kolaborasi ini dikaitkan dalam perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi.
Serta dalam 4 aspek yaitu karir,akademik,sosial dan pribadi.
DAFTAR
RUJUKAN
Santoso,Djoko B. 2009. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Malang:tanpa
penerbit.
Mukliskurniawan.http://www.facebook.com/notes/mukliskurniawan-blog/hubungan-kerjasama-antara-guru-dan-orangtua-dalam-meningkatkan-aktivitas-belajar/10150170093891505?ref=nf. Diakses tanggal 9 April 2012
http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/jiw/article/viewFile/17052/17085. diakses tanggal 8 April 2012.
Sj,WS Winkel. 1991. Bimbingan dan Konseling. Di
institusi pendidikan. Jakarta: PT Grasindo.
file:///H:/27762117-Hubungan-Kerjasama-Antara-Guru-Dan-Orangtua-Dalam-Meningkatkan-Aktivitas-Belajar-Murid.htm. diakases tanggal 2 April 2012.
Nursing .(www.nursingword.org/readroom,). Diakses tanggal 11 April 2012.
Oleh :
Kelompok 13 Offering C
:
Rio Rizki Andani
(110111409586)
Tri Mei Kusumawati (110111409538)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar